IHSG 5000, KONSTRUKSI PRIMADONA

INILAHCOM, Jakarta 14 April 2014– Jika bursa regional positif, laju IHSG dalam sepekan ke depan diprediksi kembali ke kisaran 5.000. Sah...




INILAHCOM, Jakarta 14 April 2014– Jika bursa regional positif, laju IHSG dalam sepekan ke depan diprediksi kembali ke kisaran 5.000. Saham-saham konstruksi tetap menjadi primadona.
Pada perdagangan Jumat (11/4/2014) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 50,847 poin (1,07%) ke posisi 4.816,576. Intraday terendah 4.721,596 dan tertinggi 4.816,576. Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan net buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan net sell. Pengamat pasar modal Sem Susilo menilai, koreksi tajam IHSG yang terjadi Kamis (10/4/2014) bersifat psikologis dan temporer. “Penurunan tersebut seiring investor asing yang memanfaatkan momentum yang kurang baik dari hasil Pileg untuk short selling,” katanya kepada INILAHCOM. Dia menegaskan, kalau memang benar asing takut Presiden yang terpilih tidak sesuai dengan harapan, seharusnya saham-saham yang melemah massif adalah sektor-sektor yang berhubungan dengan investasi mereka yakni pada saham-saham pertambangan dan perbankan. “Koreksi massif pada Kamis justru terjadi di sektor
konstruksi dan properti,” timpal Sem. Artinya, dia menegaskan, investor asing hanya melakukan short selling. “Investor lokal ketakutan sehingga ikut menjual saham mereka. “Jadi, itu bersifat psikologis dan temporer,” ujarnya. Pada prinsipnya, menurut Sem, siapapun presiden yang terpilih nantinya, investor asing tetap akan masuk ke pasar
saham Indonesia. “Sebab, fundamental ekonomi Indonesia bagus. Potensi kita besar dan return investasinya tinggi,” ungkap dia. Buktinya, kata dia, pada Jumat (11/4/2014) IHSG sudah kelihatan pulih. Investor asing yang tadinya berposisi jual hingga Rp1,5 triliun, sudah kembali net buy meski baru Rp52 miliar pada Jumat. “Yang terjadi pada Kamis pun, asing bukan exit sebenarnya, hanya short sell sementara untuk mencari untung yang lebih besar lagi,” tandas dia. Terkait hasil Pileg, Sem berpendapat, pasar memang mengharapkan PDI Perjuangan bisa menang maksimal supaya PDI tidak repot berkoalisi. PDIP tidak direpotkan lagi dengan politik dagang sapi. “Kenyataannya, raihan suara PDIP kurang dari yang diharapkan sehingga mau tidak mau harus berkoalisi. Tapi, kita yakin pada akhirnya tetap potensi besar Jokowi jadi presiden, apalagi sudah disupport oleh tokoh nasionalis sekaligus idealis pak Paloh,” ucapnya. IHSG dalam sepekan ke depan, menurut Sem, dari sentimen lokal sudah tidak ada masalah. “Sekarang, kita kembali ke bursa saham global dan regional termasuk Dow Jones Industrial Average (DJIA), harga komoditas, nilai tukar rupiah-dolar AS, indeks dolar AS, dan lain-lain,” ucapnya. Menurut dia, jika pergerakan intermarket semuanya bagus, IHSG dalam sepekan ke depan, akan kembali ke kisaran 5.000. “Indeks akan kembali menguji 5.000. Masalah psikologis short sell asing pada Kamis pekan lalu sudah lewat,” tuturnya. Di sisi lain, support sementara IHSG di 4.800 dan support kuat tetap di 4.700. “Resistance indeks berada di 4.900 dan level 5.000 menjadi resistance yang sangat kuat,” katanya. Sementara itu, dia menilai, soal pengaruh Jokowi Effect yang sebelumnya sempat meroketkan IHSG, sekarang cenderung netral. “Kita sekarang berharap sentimen positif dari pasar internasional yang dalam jangka menengah-panjang masih dalam tren positif,” ujarnya. Di atas semua itu, untuk saham-saham pilihan sepekan ke depan, Sem menyodorkan saham-saham konstruksi dengan catatan kalau rupiah sudah menguat dari pelemahan Jumat (11/4/2014) -0,5% di 11.413 per dolar AS atau minimal netral. “Kejarlah saham-saham di sektor konstruksi BUMN!” Dia merekomendasikan para pemodal untuk mengejar empat saham yang saham PT Wijaya Karya (WIKA), PT Pembangunan Perumahan (PTPP), PT Adhi Karya (ADHI) dan PT Waskita Karya (WSKT). “Jika rupiah menguat, lebih bagus lagi<” ucapnya. Lalu saham PT Wijaya Karya Beton (WTON), menurut dia, juga akan mengikuti laju nilai tukar rupiah dengan support di Rp700. “Jika rupiah masih melemah, saya sarankan buy on weakness pada saham-saham konstruksi. Jika rupiah menguat, boleh beli 1-2 fraksi di atas harga penutupan Jumat (11/4/2014),” kata dia. Dia menegaskan, siapapun presiden terpilih nantinya, sektor infrastruktur akan menjadi motor penggerak perekonomian Indonesia dan konstruksi adalah subsektor dari infrastruktur itu. Lalu, saham-saham batu bara yang murah meriah sudah beranjak naik. Saham PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) pada 28 April cum dividen senilai Rp460 per saham. Pekan lalu, support PTBA di Rp9.000. Sekarang, support-nya naik kelas jadi Rp9.500. “Target sementara untuk PTBA Rp10.000 karena sentiment positif dari dividen pada 28 April,” papar dia. Dia menegaskan, jika harga komoditasnya naik, bisa beli saham PTBA di harga penutupan Jumat (11/4/2014) di Rp9.700. “Jika harga komoditasnya kurang baik, coba tunggu di support Rp9.500,” imbuhnya. [jin]

Related

Analisa Sahampemenang 3845792728551482113

BUMN KONSTRUKSI U/ INVESTASI

20.000 INVESTOR SUDAH BERGABUNG

Friends Added

GRATIS SAHAMPEMENANG PREMIUM


Inilah - berita saham indonesia

Bareksa- BERITA SAHAM

Inilah Berita Ekonomi

Kontan Online - pasar modal

KONTAN - BERITA KEUANGAN

Bisnis - berita saham hari ini

IMQ - BERITA PASAR SAHAM

TAMBANG - berita pertambangan

SINDONEWS - berita ekonomi

BISNIS - BERITA PROPERTI

okezone - berita ekonomi

BERITA SEKRETARIAT KABINET

item