LEE KUAN YEW DAN TANAH JAWA

VIVA.co.id  23 Maret 2014 - Melalui memoarnya, Lee Kuan Yew mengungkap tentang banyaknya kesamaan, antara dia dan istrinya, Kwa Ge...





VIVA.co.id 23 Maret 2014- Melalui memoarnya, Lee Kuan Yew mengungkap tentang banyaknya kesamaan, antara dia dan istrinya, Kwa Geok Choo, yang meninggal pada 2 Oktober 2010.
Nilai-nilai dan bahasa, bahkan asal usul serta keterkaitan orangtua mereka dengan tanah Jawa. Terutama ayah Lee Kuan, yaitu Lee Chin Koon.
Menurut data pada Dewan Perpustakaan Nasional Singapura, kakek Lee Kuan adalah Lee Hoon Leong yang bekerja untuk perusahaan pelayaran Heap Eng Moh.
Perusahaan itu milik taipan asal Semarang, Oei Tiong Ham. Lee Hoon bertemu dengan gadis Semarang, Ko Liem Nio, yang dinikahinya pada 1899.
Mereka tinggal di Semarang, melahirkan putra bernama Lee Chin Koon, hingga Lee Hoon dipercaya untuk mengelola aset Oei Tiong Ham di Singapura.
Mereka pindah ke Singapura, menjalani kehidupan sebagai keluarga kaya. Namundepresi besar pada akhir 1920-an dan awal 1930-an, turut berdampak bagi keluarga itu.
Lee Chin Koon bekerja sebagai penjaga toko, untuk perusahaan minyak Belanda, Shell. Dia menikah pada usia 20 tahun, dengan Chua Jim Neo, pada 20 Mei 1922.
Chua Jim adalah putri tertua pengusaha kaya Chua Kim Teng dan Neo Ah Soon, keluarga Hakka dari Pontianak. Melahirkan putra pertamanya, setahun setelah menikah.
Lee Chin dan Chua Jim memberi nama putra pertama mereka, Lee Kuan Yew, lahir pada 16 September 1923. Pasangan itu memiliki tiga putra lagi dan seorang putri.
Pada otobiografinya, Lee Kuan menulis bahwa ayahnya adalah seorang yang disiplin, namun kerap melakukan kekerasan dalam menerapkan itu pada anak-anaknya.
Saat berusia empat tahun, Lee Kuan memecahkan sebuah barang milik ayahnya, yang kemudian menyeret Lee Kuan keluar sambil menjewer telinganya.
Kekerasan di masa kecil membentuk kepribadian Lee Kuan, yang menolak untuk
menggunakan kekerasan fisik bagi dua putra dan seorang putrinya.
Ayah Lee Kuan juga memiliki kebiasaan buruk, judi, yang mengakibatkan kerenggangan dengan istrinya. Lee Chin kerap pulang dalam kondisi marah setelah berjudi.
Dia juga pernah meminta perhiasan istrinya, untuk digunakan berjudi. Tapi Chua Jim seorang wanita yang kuat, dan menolak permintaan Lee Chin itu.
Kebiasaan judi ayahnya itu juga berdampak pada Lee Kuan, yang membenci perjudian, walau akhirnya dua kasino tetap dibangun di Singapura, setelah putranya Lee Hsien Long menjabat PM.
Pada pidatonya sebagai Menteri Senior, Lee Kuan tetap menegaskan penentangannya terhadap perjudian. Dia menolak proposal dari Stanley Ho, untuk mengoperasikan kasino terapung di Marina Bay.
Lee Kuan, bahkan menentang proposal untuk menggelar ajang balap Formula One di Singapura. Stanley Ho Hung-sun, adalah pengusaha judi yang populer di Hong Kong dan Macau.
Lee Kuan menulis, kesulitan yang dirasakan pada masa pendudukan Jepang, membuat ayahnya lebih bertanggungjawab pada masa-masa sulit.
Bagi Lee Chin, pendidikan bagi anak-anaknya, adalah tanggungjawab penting, sehingga dia merasa bahagia, saat anak-anaknya mendapatkan beasiswa.
Setelah Lee Kuan menjadi perdana menteri pertama Singapura, pada 1959, Lee Chin menolak diwawancara oleh media, mengatakan bahwa dia tidak menyukai publisitas.
Seorang jurnalis Filipina pada 1971, menggambarkan Lee Chin sebagai seorang pakar, dalam melakukan penolakan secara sopan pada para jurnalis.
Lee Chin meninggal pada 12 Oktober 1997, sementara istrinya Chua Jim meninggal tiga tahun kemudian. (umi)

Pada memoarnya, mantan perdana menteri pertama sekaligus pendiri Singapura, Lee Kuan Yew, menyebut dirinya generasi keempat keluarga China di Singapura.
Lee Kuan lahir pada 16 September 1923 di Jalan Java 92, Singapura, selama masa kolonial Inggris. Ia merupakan putra sulung pasangan Lee Chin Koon, yang pernah tinggal di Semarang, Jawa Tengah, dan Chua Jim Neo.

Lee Kuan mengeyam pendidikan dasar di sekolah China, Choon Guan, selama empat tahun. Sebagai peranakan etnis Hakka, mereka berbicara dengan dialek Hakka di rumah, bukan Mandarin. 
Seperti pada kebanyakan orang Singpura saat itu, pengaruh budaya Inggris melekat pada keluarga Lee. Kakeknya, Lee Hoon Leong, memutuskan untuk memberi cucunya pendidikan Inggris.
Lee Hong Leong bahkan menambahkan nama panggilan 'Harry', bagi cucunya. Lee Kuan kemudian melanjutkan pendidikannya di SD Telok Kurau, Raffles Institution, and Raffles College.
Lee Kuan memperoleh beberapa beasiswa, termasuk beasiswa John Anderson untuk kuliah di Raffles College, yang kini bernama Universitas Nasional Singapura.
Kuliahnya lalu tertunda akibat pendudukan Jepang selama Perang Dunia II, pada 1942-1945. Selama pendudukan Jepang, Lee Kuan menjalankan bisnis lem yang terbuat dari tapioka.
Pernah mempelajari bahasa Jepang sebelum Singapura diduduki pasukan Jepang, Lee Kuan direkrut sebagai intelijen militer, untuk menerjemahkan penyadapan laporan sekutu bagi militer Jepang.
Lee Kuan juga menjadi editor bahasa Inggris untuk Hodobu, departemen informasi atau propaganda Jepang, antara 1942-1943. Saat PD II berakhir, dia melanjutkan pendidikan tingginya di Inggris.
Lee Kuan melanjutkan pendidikan di Universitas Cambridge, Inggris. Sempat menempuh bidang ekonomi, tapi kemudian menggantinya dengan hukum di Fitzwilliam College.
Lee lulus dengan status Double Starred, lalu kembali ke Singapura pada 1949, bekerja sebagai pengacara di firma hukum Laycock and Ong.
Lee Kuan menikah dengan Kwa Geok Choo selama kuliah di Inggris, yang disebut Lee Kuan sebagai pernikahan tak resmi, karena dilakukan tanpa sepengetahuan orangtua mereka.
Keduanya kembali menikah, secara resmi, pada 30 September 1950, memiliki dua putra dan satu putri. Putra tertuanya, Lee Hsien Loong, saat ini menjabat sebagai Perdana Menteri Singapura, sejak 2004.
Pada 12 November 1954, Lee Kuan dan sejumlah koleganya dari kelas menengah berpendidikan Inggris, mendirikan partai sosialis Partai Aksi Rakyat (PAP), di mana Lee Kuan menjabat sebagai Sekjen.
Konferensi partai pertama digelar di Victoria Memorial Hall, yang dihadiri lebih dari 1.500 pendukung. Lee Kuan meraih kursi untuk daerah pemilihan Tanjong Pagar, pada April 1955.
Dia menjadi pemimpin oposisi terhadap koalisi pemerintah yang dikuasai partai Barisan Buruh, dipimpin oleh David Saul Marshall. Posisi Lee Kuan terancam, setelah pro-komunis mengambilalih kepemimpinan PAP pada 1957.
Menteri Kepala Lim Yew Hock kemudian memerintahkan penangkapan massal tokoh-tokoh pro-komunis. Lee Kuan kemudian kembali menjabat sebagai Sejen PAP.
PAP mengalahkan Barisan Buruh dalam pemilu 30 Mei 1959, memenangkan 43 dari 51 kursi majelis legislatif. Inggris kemudian memberikan otonomi bagi Singapura, pada 3 Juni 1959.
Singapura dapat mengatur semua urusan negara, kecuali dalam hal pertahanan dan hubungan luar negeri. Lee Kuan menggantikan posisi Lim Yew Hock sebagai menteri kepala, menjabat sebagai PM pertama. (umi)

Related

Sosial Humanitas 5263759142994850658

BUMN KONSTRUKSI U/ INVESTASI

20.000 INVESTOR SUDAH BERGABUNG

Friends Added

GRATIS SAHAMPEMENANG PREMIUM


Inilah - berita saham indonesia

Bareksa- BERITA SAHAM

Inilah Berita Ekonomi

Kontan Online - pasar modal

KONTAN - BERITA KEUANGAN

Bisnis - berita saham hari ini

IMQ - BERITA PASAR SAHAM

TAMBANG - berita pertambangan

SINDONEWS - berita ekonomi

BISNIS - BERITA PROPERTI

okezone - berita ekonomi

BERITA SEKRETARIAT KABINET

item